AMALAN MALAM NISFU SYAABAN

ﻪﺘﺎﻜﺮﺒﻮ ﷲﺍﺔﻤﺤﺭﻮ ﻡﻜﻴﻠﻋ ﻢﻼﺴﻠﺍ

Hari Nisfu Sya’aban akan tiba pada 04 July 2012 (selepas maghrib HARI
INI pada hari 14 Sya’aban 1433H)

Oleh itu, marilah kita sama-sama mengambil saat keemasan ini untuk
menutup catatan amal ibadah kita kpd Allah dengan baik dan sempurna
dan seterusnya berazam untuk memperbaiki diri kita untuk catatan yang
baru.

Hari nisfu sya’aban adalah hari dimana buku catatan amalan kita selama
setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru.

Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula
sebaik sahaja masuk waktu maghrib, (15 Sya’aban bermula pada 14 hb
sya’aban sebaik sahaja masuk maghrib)

Berikut adalah antara amal ibadah di hari Nisfu Sya’aban:

1. Selepas solat maghrib
Solat sunat nisfu sya’aban, 2 rakaat
Rakaat 1 : baca Al-Fatihah & surah Al-Qadar 1x
Rakaat 2 : baca Al-Fatihah & surah Al-Ikhlas 3x

2. Membaca Yasin 3x

i) Selepas Yasin pertama : mohon dipanjangkan umur untuk beribadat
kepada Allah

ii) Selepas Yasin kedua : mohon rezeki yang halal untuk beribadat kepada Allah

iii) Selepas Yasin ketiga : mohon ditetapkan iman dan Islam & mati di
dalam iman & pohonlah segala yang baik….
Kemudian baca Istighfar 11x & selawat 11x

Baca doa nisfu Sya’aban (ada didalam Yasin Majmuk)

3. Baca surah ikhlas 1000x

4. Berpuasa pada siangnya

Abul Khair Al Talaqaani r.a. mengira nama2 malam Nisfu Syaaban sebanyak 22.

Antaranya yg termasyhur adalah:

1. Malam Dimustajabkan Doa
2. Malam Pembahagian Takdir
3. Malam Rahmat
4. Malam Berkat
5. Malam Pengampunan (Taubat)
6. Malam Penebusan
7. Malam Syafaat
8. Malam Penulisan
9. Malam Keagungan dan Kemuliaan
10. Malam Rezeki
11. Malam Hari Raya Para Malaikat
12. Malam Penghidupan

Antara kelebihan bulan Sya’aban:

1. Sesiapa berpuasa sehari dalam bulan Sya’aban maka Allah haramkan
tubuhnya dari api neraka dan dia akan menjadi teman kpd nabi Allah
Yusof didalam syurga.

2. Riwayat dari Osman Bin Abi Al-As, Sabda Nabi Muhammad (saw) : pada
malam nisfu sya’aban setelah berlalu 1/3 malamnya, Allah turun ke
langit dunia lalu berfirman : adakah orang-orang yang meminta maka Aku
perkenankan permintannya, adakah orang yang meminta ampun maka aku
ampunkannya, adakah orang yang bertaubat maka aku terima taubatnya dan
diampunkan semua orang mukmin lelaki & perempuan , melainkan orang
yang berzina atau orang yang berdendam marah hatinya kepada
saudaranya.

Sebaik-baiknya minta ampun dengan ibubapa sebelum harinisfu sya’aban
kerana amalan kita akan terhalang dari diangkat ke langit sekiranya
kita derhaka/berdosa dengan ibubapa kita.

Wallahua’alam

JADI MARILAH KITA BERSAMA2 MEMERIAHKAN LAGI BULAN SYA’ABAN INI DENGAN
AMAL IBADAT YANG LEBIH DAN JANGAN LUPA KAWAN2 SEMUA AMBILLAH
KESEMPATAN UNTUK BERPUASA PADA 15 SYAABAN NANTI IAITU PADA KHAMIS 05
JULY INI KERANA KITA TIDAK TAHU SAMADA KITA BERKESEMPATAN LAGI UNTUK
BERTEMU DENGANNYA TAHUN HADAPAN… NAUZUBILLAMINZALIK…

**********************************************************************************************************************************************************************************************

Nishfu Sya’ban (15 Sya’ban)

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi wasallim

Malam tanggal 15 Sya’ban 1433 H, adalah malam ‘pemutusan’ (pengambilan
keputusan)/Night of Absolution/ Laylatul Bara’a atau yang lebih
terkenal di kalangan ummat Islam Tradisional Ahlussunnah wal Jama’ah
sebagai malam Nishfu Sya’ban.

Sangat dianjurkan (mustahab) pada malam tersebut bagi kita untuk
memperbanyak munajat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dengan
dzikr, membaca Al Quran, maupun salat. Jika tidak bisa sepanjang malam
(dari Maghrib hingga Fajr), mampu sebagian pun dianjurkan untuk diisi
dengan munajat pada-Nya.

Tentang Malam Nishfu Sya’ban (laylat al-bara’a) ini ada banyak ayat
dalam Al-Quran maupun hadits mulia dari Nabi besar Muhammad
sall-Allahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan keutamaannya. Berikut
ini adalah beberapa ayat dan hadits tentang keutamaan malam
pertengahan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) atau Laylatul Bara’ah.
Allah berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
“inna anzalnahu fi laylatin mubarakatin inna kunna mundzirin”

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan
sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“fiha yufraqu kullu amrin hakim”

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,
أَمْراً مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ
“amran min `indina inna kunna mursilin”

(yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.Sesungguhnya Kami adalah
yang mengutus rasul-rasul,
رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“rahmatan min rabbika innahu huwa al-sami`u al-`alim”

sebagai rahmat dari Tuhanmu.Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui,
QS AD DUKHAAN (44:3-6)

Sekalipun majoriti mufassirin (ahli tafsir) mengertikan “malam penuh
berkah” di ayat-ayat di atas sebagai Laylat al-Qadr di bulan Ramadhan,
tapi sebagian komentar juga menyebutkan bahawa “malam penuh barakah”
ini bisa jadi adalah malam pertengahan Sya’ban atau malam Nishfu
Sya’ban atau laylatul bara’a. Pandangan ini berdasarkan pada
hadits-hadits tentang fadhillah (keutamaan) besar pada malam nishfu
sya’ban tersebut. Sebagai konsekuensinya, Syari’ah telah
merekomendasikan untuk menghidupkan malam tersebut.
Berkaitan dengan ibadah sunnah pada malam Nishfu Sya’ban, Imam Suyuti
mengatakan dalam Haqiqat al-sunna wa al-bid`a:
“Tentang malam nishfu Sya’ban, ia memiliki fadhilah (keutamaan) yang
besar dan dianjurkan (mustahabb) untuk melewatkan sebagian
daripadanya dengan ibadah-ibadah sunnah”
(Suyuti, Haqiqat al-sunna wa al-bid`a aw al-amr bi al-ittiba` wa
al-nahi `an al-ibtida` (1405/1985 ed.) halaman 58. Beliau menambahkan:
“Tapi, ini mesti dilakukan sendiri, bukan dalam jama’ah.”)

Ibn Taymiyya menganggap malam Nishfu Sya’ban juga sebagai malam penuh
keutamaan dalam kitab beliau, Iqtida’ al-sirat al-mustaqim:
[Beberapa] berkata: Tidak ada perbedaan di antara malam ini (nishfu
Sya’ban) dengan malam-malam lain dalam setahun. Tetapi, pendapat
banyak ulama, dan mayoritas sahabat-sahabat kami (ulama mazhab
Hanbali) dan yang lain adalah malam tersebut adalah malam yang amat
istimewa, dan ini juga diindikasikan oleh kata-kata Ahmad (ibn
Hanbal), dalam memandang banyak hadits yang diriwayatkan tentangnya,
dan dalam memandang apa-apa yang menguatkannya dari kata-kata dan
amalan para generasi awal (al-athar al-salafiyya). Beberapa dari
keutamaannya diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits musnad dan sunan.
Ini adalah benar, sekalipun jika hal-hal lain telah dipalsukan
tentangnya.
(Ibn Taymiyya, Iqtida’ al-sirat al-mustaqim (1369/1950 ed.) p. 302.)
Di antara hadits-hadits yang menekankan status laylat al-bara’a adalah
sebagai berikut:

1. Ibn Hibban meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal dalam Sahih-nya,
riwayat berikut ini, yang juga dinyatakan oleh muhaddits kontemporer
Syaikh Shu’ayb Arna’ut sebagai sahih:
Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda:
yattali`u Allahu ila khalqihi fi laylati al-nisfi min sha`bana
fa-yaghfiru li-jami`i khalqihi illa li mushrikin aw mushahin.
Allah melihat pada makhluq-Nya pda malam pertengahan Sya’ban dan Dia
mengampuni seluruh makhluq-Nya kecuali yang musyrik dan mushahin
(yang berkhianat).
(Ibn Hibban, Sahih, ed. Shu`ayb Arna’ut 12:481 #5665)

Haythami berkata bahwa Tabarani juga meriwayatkan ini dalam Kabir-nya
dan Awsat dengan isnad yang berisi hanya rawi-rawi tepercaya, sehingga
sanadnya sahih; Ibn Khuzayma memasukkannya dalam Sahih-nya,
yang memiliki level akseptansi di antara ahli hadits sama dengan
Sahih Muslim; bahkan “Muhaddits Salafi” Albani juga memasukkannya
dalam kitabnya Silsila sahiha!

2. Tirmidhi dan Ahmad meriwayatkan dari `Abd Allah ibn `Amr, al-Bazzar
dengan sanad baik (hasan) lewat seorang Tabi`i besar al-Qasim ibn
Muhammad ibn Abi Bakr as-Siddiq:
“Allah melihat makhluq-makhluq-Nya pada malam nishfu-Sha’ban dan Dia
mengampuni seluruh hamba-hamba-Nya kecuali dua orang: seseorang yang
berniat untuk berkhianat dan pembunuh.”

3. Bayhaqi meriwayatkan dari `A’ishah dalam Syu`ab al-iman dengan
riwayat darinya:

Dari ‘Aisyah: ia berkata: Nabi berdiri untuk salat pada sebagian
malam dan bersujud untuk waktu yang amat lama hingga aku mengira
ruhnya telah diambil kembali. Ketika aku melihat hal ini, aku bangun
dan pergi untuk mencoba menggerakkan jari jempol beliau yang besar,
saat mana beliau bergerak, sehingga aku mundur kembali. Ketika beliau
mengangkat kepala beliau dari sujudnya dan menyelesaikan salatnya,
beliau saw bersabda: “Wahai ‘A’isyah, Wahai Humayra’! Apakah kau
pikir bahwa Nabi akan memutuskan perjanjiannya denganmu?” Ia
(‘Aisyah) berkata: “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, tapi aku
berpikir bahwa ruhmu telah diambil kembali karena engkau begitu lama
bersujud.” Beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahukah
engkau malam apa ini?” ‘Aisyah berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih
tahu.” Beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah malam
pertengahan Sha’ban (Nishfu Sya’ban)! Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla
melihat pada hamba-hamba-Nya pada malam nishfu Sya’ban, dan Ia
mengampuni mereka yang memohon ampunan, dan Ia memberikan rahmat-Nya
pada mereka yang memohon rahmat, dan Ia memberi tunda pada orang-orang
yang dengki dan iri pada keadaan mereka.”
al-Azhari berkata:

Berkaitan dengan kata-kata beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam:
“memutuskan perjanjian denganmu”: ini dikatakan pada seseorang yang
mengkhianati sahabatnya dan karena itu dianggap tidak memberikan pada
sahabatnya hak sahabat tsb.

Bayhaqi melanjutkan:
Aku berkata: hadits ini kehilangan seorang Sahabat pada isnadnya, dan
adalah hadits yang baik (hadza mursal jayyid). Sangat mungkin bahwa
al-`Ala’ ibn al-Harith mengambilnya dari Makhul, Allahu a’lam.
(Bayhaqi, Syu`ab al-iman, ed. Zaghlul 3:382 #3835.)

4. Tirmidhi, Ahmad, dan Ibn Majah meriwayatkan:

Dari ‘Aisyah: Aku kehilangan Rasulullah saw pada suatu malam hingga
aku pergi keluar ke al-Baqi’ (dan menemukan beliau). Beliau
sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Apakah kau takut bahwa Allah
akan berbuat salah padamu dan Nabi-Nya akan berbuat salah padamu?” Aku
berkata: “Wahai utusan Allah, aku berpikir bahwa engkau mungkin telah
pergi mengunjungi salah satu istrimu.” Beliau sall-Allahu ‘alayhi
wasallam bersabda: “Allah ‘azza wa jalla turun ke langit terdekat pada
malam pertengahan Sha’ban (nishfu Sha’ban) dan Ia mengampuni
orang-orang sejumlah lebih banyak daripada bulu-bulu yang ada di kulit
domba suku-suku Kalb.”
(Tirmidhi, Ahmad, dan Ibn Majah. Tirmidhi berkata bahwa ia telah
mendengar bahwa Bukhari memberi derajat hadith ini lemah karena
beberapa sub-rawi-nya tidak meriwayatkan secara langsung satu sama
lain.)

5. Ahmad dan Ibn Majah meriwayatkan:
Dari `Ali ibn Abi Talib: Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“Pada malam pertengahan Sha’ban (Nishfu Sha’ban) laluilah oleh kalian
dengan salat pada sebagiannya, dan berpuasalah pada hari (yang
mendahuluinya), karena Allah turun pada langit terdekat pada malam
itu, dimulai dari matahari terbenam (maghrib) dan berfirman: ‘Tak
adakah yang memohon ampunan melainkan Aku akan mengampuni mereka? Tak
adakah yang memohon rizqi melainkan Aku akan memberi rizki pada-Nya?
Tak adakah yang mengalami ujian/musibah melainkan Aku akan mudahkan
baginya? Tak adakah yang ini dan itu, tak adakah yang ini dan itu’,
dan seterusnya hingga fajar menyingsing.”
(Ahmad dan Ibn Majah. isnadnya mengandung Ibn Abi Sabra yang lemah
(da`if).)

6. Lihat pula link-link berikut ini untuk matan Arab dari
hadits-hadits tentang keutamaan Nishfu Sya’ban, terutama yang
diriwayatkan Muhaddits Ibn Majah:

a. Sayyidah Aisyah RA yang mencari-cari Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi
wasallam pada suatu malam, dan ternyata beliau sedang bermunajat di
Baqi karena malam itu adalah nishfu syaban, kemudian beliau diberi
tahu fadlilah malam itu.

b. Perintah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam untuk memperbanyak
ibadah baik shalat, istighfar, doa, dan lain-lain pd malam Nishfu
Syaban

c. Fadlilahnya berdoa malam Nishfu Syaban

d. Dari Imam Ahmad tentang siapa saja yg mendapatkan ampunan di malam
Nishfu Syaban.

Semoga, kita termasuk dalam hamba-hamba-Nya yang tidak menyia-nyiakan
kesempatan ini, dengan memberikan yang terbaik dari diri kita untuk
mengabdi pada-Nya, khususnya pada malam-malam dan kesempatan yang Ia
Ta’ala muliakan. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s